Ruang Dialektika #28

Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY menyelenggarakan program Ruang Dialektika #28. Program Ruang Dialektika merupakan salah satu dari program kerja Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY yang bertujuan untuk sebagai wadah – khususnya mahasiswa Kebijakan Pendidikan – untuk mengembangkan serta mengasah kembali nalar kritis yang hakikatnya dimiliki oleh manusia. Ruang Dialektika adalah sebuah forum diskusi rutin yang merupakan program kerja insidental Departemen Penalaran HIMA KP UNY. Ruang Dialektika #28 diselenggarakan pada hari Sabtu, 3 Desember 2022 pada pukul 13.00 – 15.00 WIB melalui platform Zoom Meeting dan dibuka gratis untuk umum. Acara tersebut dipantik oleh Fauzan Nurkholish (Mahasiswa Kebijakan Pendidikan 2020) serta dimoderatori oleh M. Azhar Sang Surya (Mahasiswa Kebijakan Pendidikan 2021). Tajuk dari pembahasan Ruang Dialektika #28 adalah “Apakah Guru Selalu Benar dan Murid Selalu Salah?”. Tajuk tersebut diambil berdasarkan kesepakatan oleh Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY untuk mewadahi mahasiswa prodi Kebijakan Pendidikan, mahasiswa umum, dan masyarakat umum untuk berdiskusi berdasarkan peristiwa ter-update yang sedang hangat diperbincangkan di pemberitaan dan di dunia maya. Terlihat antusiasme dari peserta diskusi baik secara kuantitas maupun kualitas. Pada pertengahan acara, peserta diskusi mencapai 20 orang. Diskusi juga berjalan sangat hidup dengan beberapa peserta yang berpendapat baik pro maupun kontra terkait permasalahan yang sedang dibahas. Tema yang diangkat merupakan salah satu topik hangat di media sosial, karena terdapat berbagai kasus-kasus yang dilakukan oleh oknum guru di berbagai sekolah. Kiasan yang menyindir ini menyiratkan beberapa hal. Murid-murid melihat bahwa gurunya berpikir bahwa ia tahu yang benar dan akan selalu benar. Murid harus menerima dan mengikuti ajaran si guru. Seorang guru tidak pernah salah, jika ‘salah’ itu pasti hanya kesalahan murid dalam memahami ajaran dan didikan sang guru. Apakah benar kiasan guru selalu benar dan murid selalu salah? Apabila guru melakukan kesalahan, kembali lagi kepada pasal pertama yang menyatakan bahwa guru selalu benar? Dari mana kiasan tersebut muncul? Apakah itu berdasarkan realitas yang mereka alami kemudian muncul dalam bentuk sindiran tentang praktik guru yang bertindak arogan?.

Back To Top