Ruang Dialektika #26 yang berkolaborasi dengan program Diskusi Bersama Sosiologi (Dubes) HIMA Pendidikan Sosiologi FIS UNY.

 

Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY menyelenggarakan program Ruang Dialektika #26 yang berkolaborasi dengan program Diskusi Bersama Sosiologi (Dubes) HIMA Pendidikan Sosiologi FIS UNY. Program Ruang Dialektika merupakan salah satu dari program kerja Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY yang bertujuan untuk sebagai wadah – khususnya mahasiswa Kebijakan Pendidikan – untuk mengembangkan serta mengasah kembali nalar kritis yang hakikatnya dimiliki oleh manusia. Ruang Dialektika adalah sebuah forum diskusi rutin yang merupakan program kerja insidental Departemen Penalaran HIMA KP UNY. Ruang Dialektika #26 X Dubes Tahun 2022 diselenggarakan pada hari Jumat, 21 Oktober 2022 pada pukul 15.00 – 17.30 WIB di Student Square Lantai 3 FIP UNY dan dibuka gratis untuk umum. Acara tersebut dipantik oleh Mustika Vania Sulistyani (Mahasiswi KP 2019) dan Zhafran Naufal (Mahasiswa Ilmu Sejarah 2020), serta dimoderatori oleh Erika Nanda Nuraini (Mahasiswa Pendidikan Sosiologi 2021). Tajuk dari pembahasan Ruang Dialektika #26 adalah “Menelaah Kritis Peran Pemuda dalam Konteks Regional dan Global”. Tajuk tersebut diambil berdasarkan kesepakatan oleh Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY dan Departemen PPM HIMA Dilogi FIS UNY untuk mewadahi mahasiswa prodi Kebijakan Pendidikan, prodi Pendidikan Sosiologi, serta mahasiswa dan masyarakat umum untuk berdiskusi berdasarkan peristiwa terupdate yang sedang hangat diperbincangkan di pemberitaan dan di dunia maya. Terlihat antusiasme dari peserta diskusi baik secara kuantitas maupun kualitas. Pada pertengahan acara, peserta diskusi mencapai 50 orang. Diskusi juga berjalan sangat hidup dengan beberapa peserta yang berpendapat baik pro maupun kontra terkait permasalahan yang sedang dibahas. Situasi negara saat ini sedang tidak stabil dimana akhir-akhir ini sering terjadi permasalahan yang ada di negara kita baik konflik regional maupun konflik global. Contoh konflik regional antara lain tragedi kanjuruhan dan kasus bunuh diri yang dialami oleh mahasiswa. Sedangkan contoh kasus global yaitu kasus beasiswa LPDP. Padahal adanya arus globalisasi seharusnya para pemuda dapat mengambil sisi positif seperti berkolaborasi dengan orang luar negeri, berdiskusi, atau pertukaran pelajar. Namun pada kenyataannya justru sebaliknya di mana banyak pemuda yang mengambil sisi negatif dan berdampak buruk terhadap kultur yang ada di Indonesia.

Back To Top