Ruang Dialektika #3 “Suara Perempuan Akan Ketertindasan & Ancaman Kekerasan Seksual”

 

Ruang Dialektika #3 kali ini mengangkat materi diskusi spesial untuk memperingati Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2021. Tajuk yang diangkat diangkat pada Ruang Dialektika kali ini adalah “Suara Perempuan Akan Ketertindasan & Ancaman Kekerasan Seksual”. Dibersamai oleh pemantik Donda Hasian Tumpalina Sihite dari Divisi Kajian & Advokasi Srikandi UNY sekaligus Mahasiswi KP 2018 serta moderator dari Wakil Kepala Departemen Penalaran HIMA KP UNY Ivana Grace Laila. Kegiatan diselenggarakan via aplikasi Google Meet pada hari Minggu, 14 Maret 2021 pukul 16.00 WIB. 

Tajuk “Suara Perempuan Akan Ketertindasan & Ancaman Kekerasan Seksual” diambil karena penting untuk dibahas. Di era modern seperti saat ini, tak bisa dipungkiri bahwa perempuan masih terkungkung pada ancaman kekerasan seksual. Sampai saat ini masih banyak terjadi kasus-kasus seperti pelecehan dan kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan. Pada sesi diskusi, pemantik memaparkan data-data dan catatan kasus yang terjadi sepanjang tahun pandemi ini. Dengan banyaknya kasus tersebut, perempuan tak pernah lepas dari yang namanya ancaman dan juga ketertidasan akan ketidaksetaraan. Maka dari itu, penting untuk perempuan mampu bersuara atas ketertindasan dan ancaman tersebut.

Diskusi berjalan dengan lancar dan juga menarik untuk disimak. Panduan materi dari pemantik dan moderator yang membawakan materi dengan jelas dan mengeungkap banyak fakta mengenai kasus pelecehan terhadap perempuan di kampus serta bagaimana penyelesaiannya. Ada hal yang unik pada Ruang Dialektika kali ini. Selain karena spesial memperingati Hari Wanita Sedunia, diskusi kali ini juga diikuti oleh salah satu peserta dari kalangan lansia. Dengan nama akun Elvina Simanjuntak yang diketahui merupakan nenek dari Donda Hasian, pemantik RD kali ini.

    Pada sesi clossing statement, Donda Hasian selaku pemantik mengatakan bahwa perempuan itu sejatinya manusia yang utuh, berharga, berdaya, dan merdeka. Perempuan dapat berdiri di kaki sendiri, menjadi mandiri. Walau pun dunia masih diskriminatif, masih rentan akan ancaman kekerasan seksual, tapi satu yang harus perempuan percaya, “The power you have is to be the best version of yourself, you can be, so you can create a better world”.



Back To Top