Berita Acara Ruang Dialektika #2 "Makin Bobroknya Kampus di Indonesia"



Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY menyelenggarakan program Ruang Dialektika 2021 #2 yang diselenggarakan pada hari Rabu, 3 Maret 2021 pada pukul 19.30 WIB sampai dengan selesai acara menggunakan perangkat aplikasi Google Meet dan dibuka gratis untuk umum. Acara tersebut dipantik oleh Citra Widyastoto yang merupakan staff Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY 2021 yang juga merupakan mahasiswa prodi Kebijakan Pendidikan angkatan 2020. Pada rencananya, RD #2 ini akan dimoderatori oleh Siti Mahmudah yang merupakan mahasiswi prodi Kebijakan Pendidikan 2020. Namun, karena adanya halangan berupa adanya mati listrik dan kesulitan sinyal, maka digantikan dengan Dwiyana Dyah Nur Nafi’ah yang juga merupakan Staff Departemen Penalaran HIMA KP FIP UNY 2021.

Tajuk dari pembahasan Ruang Dialektika #2 adalah “Makin Bobroknya Kampus di Indonesia”. Tajuk tersebut diambil berdasarkan banyaknya kasus ter-update tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan kampus. Mulai dari dugaan korupsi, plagiarisme, sampai adanya korupsi, gratifikasi, plagiarisme, politisasi rektor, sampai dugaan jual beli gelar doktor honoris causa. Peserta berkisar lebih dari 20 orang, membahas diskusi yang dirasa berat ini dengan mendalam. 

Fauzan Nur Kholish beragumen bahwa kampus itu institusi moral yang menjadi rujukan moral bagi masyarakat. Ketika kampus tidak lagi bertanggung jawab terkait pelanggaran-pelanggaran tersebut, kemana tempat masyarakat harus merujuk moral? 

Ivana Grace Layla berargumen bahwa bisa jadi, semua itu tadi berdasar pada tradisi KKN kita dan seperti isu nama baik yang sedang diperjuangkan oleh setiap kampus. Korupsi, kolusi, nepotisme, itu hal yang sudah mendarah daging di Indonesia yang selalu berdasar pada keramah-tamahan, apalagi nepotisme. Selain itu juga, Ivana berargumen siapa yang memulai tradisi bahwa nilai adalah indikator bahwa sesuatu itu bagus? Siapa yang pertama kali memberikan asumsi bahwa tingginya skor melambangkan tingginya kualitas dari konten tersebut?

Amos berargumen bahwa dalam diskursus komersialisasi pendidikan seperti saat ini problemnya kalau kalau kita bicara motif lalu kita peras lagi motif ini menjadi sebuah substansi, maka substansi yang sebenarnya bermasalah ini adalah, yang pertama tentang relasi kuasa dan pengetahuan. Bagaimana klaim kebenaran yang dibangun oleh instansi pendidikan itu terkait erat dengan otoritas politik. Akar permasalahan pada diskusi kali ini yang di mana mendasar pada adanya pergeseran makna dari pemaknaan yang disebabkan oleh kapitalisme. selanjutnya adalah bagaimana cara kita membuat suatu upaya tandingan walaupun memang membutuhkan kekuatan yang besar.




Back To Top