RUANG DIALEKTIKA #15 “Pendidikan Mentalitas: Dampak Covid-19 Terhadap Psikis Masyarakat”


“Pendidikan Mentalitas: Dampak Covid-19 Terhadap Psikis Masyarakat”



Munculnya wabah Covid-19 telah menjadi bencana kemanusian di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali negara Indonesia. Siap tidak siap kita akan menghadapi “bencana” yang dampaknya dirasa seperti bom waktu yang begitu cepatnya meledak. Seluruh lapisan masyarakat tak pandang bulu kelas sosialnya ikut merasakan dampaknya. Salah satu dampak Covid-19 yang saat sedang hangat dibicarakan yaitu kesehatan mental masyarakat. Lalu, bagaimanakah sebenarnya Covid-19 berdampak terhadap psikis masyarakat?
Pembicaraan mengenai Covid-19 menjadi semakin hangat dibicarakan setelah pemberitaan bahwa Covid-19 ini telah menyebar hingga Indonesia. Apalagi setelah diketahui bahwa virus ini dapat menyebar dengan sangat cepat dan menyebabkan berbagai permasalahan pernafasan bahkan yang paling menakutkan kematian. Hingga akhirnya timbul ketakutan dan kepanikan di masyarakat. Ini ditandai dengan beberapa perilaku masyarakat yang membeli masker, sanitasi, dan berbagai bahan makanan dalam jumlah banyak bahkan hingga melakukan penimbunan. Kepanikan dan kecemasan yang berlebih akan berdampak buruk bagi kesehatan. Emosi panik yang dirasakan seseorang dapat menyebabkan tubuh melepaskan hormon kortisol, yang berfungsi merepresi imun tubuh. Ketika merasa panik, kekebalan tubuh seseorang akan menurun sehingga akan rentan terserang penyakit. Kepanikan dan kecemasan tersebut muncul karena tiga alasan. Pertama, manusia adalah makhluk sosial, di mana manusia akan berprilaku dengan merespon lingkungannya. Emosi panik akan ditularkan ke orang-orang disekitarnya. Ikatan yang terdapat di lingkungan masyarakat menyebabkan individu memiliki keharusan akan emosi yang sama. Interaksi sosial turut berperan dalam penularasan rasa panik. Rasa panik adalah bentuk alarm perilaku bahwa individu harus melakukan suatu tindakan. Ketika seseorang merasakan sebuah ancaman, otaknya akan bereaksi untuk menahan dan menahan ancaman tersebut. Kedua, perilaku konformitas yaitu perilaku yang dilakukan oleh individu agar diakui atau diterima oleh lingkungan sekitar. Individu yang melakukan tindakan tersebut merasa bahwa ia akan diterima oleh lingkungan ketika ia melakukan hal yang sama dengan lingkungannya. Ketiga, pemberitahuan yang berlebihan di media massa dan media sosial. Pemberitaan media merupakan hal yang penting untuk meningkatkan tingkat kewaspadaan. Namun, tak jarang informasi yang diberikan oleh media tidaklah objektif. Sebagian konten yang ditampilkan mengeksploitasi afek audiens dan menimbulkan kepanikan masyarakat. 
Keadaan juga diperparah dengan berbagai permasalahan yang muncul ketika pandemi ini merebak. Permasalahan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan yang lainnya. Bukannya saling menguatkan ketika keadaan sedang tidak baik, masyarakat malah saling menyalahkan, berdebat, mengkritik, dan bersikap egois dengan tidak memikirkan keadaan orang lain. Kondisi yang seperti ini akan menyebabkan kesehatan individu menjadi “tidak baik-baik saja”. Tidak sedikit individu yang hingga lupa memikirkan kesehatan mentalnya. Padahal selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga tak kalah pentingnya.  Banyak hal dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan selama masa pandemi Covid-19 sekarang, apalagi dalam keadaan bosan karena harus berada di rumah dalam rangka meminimalisir penyebaran virus Covid-19. Misalnya, mengikuti perkembangan keadaan merupakan hal yang bagus, namun sebaiknya tidak dilakukan secara terus-menerus. Akan lebih baik apabila membaca dan mengikuti himbauan dari pemerintah atau mengenai bagaimana cara pencegahan penularan virus Covid-19. Setelah menerima informasi pun diharap untuk tidak langsung mempercayainya, namun melakukan cross check akan kebenaran informasi tersebut. Begitu pula ketika akan menyebarkan kembali informasi yang didapatkan kepada orang lain. Semua pihak berkewajiban dalam menyebarkan informasi yang benar dan valid serta mencegah penyebaran hoax. Terutama mengedukasi kepada mereka yang kesulitan dalam mengakses informasi. Selama masa pandemi Covid-19, banyak orang yang memiliki waktu luang yang lebih dibanding dengan biasanya. Waktu luang ini dapat diisi dengan berbagai kegiatan-kegiatan positif seperti membaca buku, menonton film, memasak, memperbanyak ibadah, berkomunikasi dengan teman-teman, atau meningkatkan quality time bersama keluarga. Menuliskan harapan misalnya membuat to-do list hal apa saja yang akan dilakukan selama masa pandemi Covid-19 atau setelah pandemi berakhir. Kegiatan seperti ini dapat memberi kesan semangat serta dapat mengalihkan pikiran dari permasalahan terkait Covid-19. Napas kesadaran, yaitu menyadari bahwa napas yang kita hembuskan haruslah selalu kita jaga. Ketika merasa dalam keadaan panik atau gelisah, dapat mengatur napas agar merasa lebih tenang. Mengurangi stress selama pandemi Covid-19 merupakan hal yang harus dilakukan. Menjaga kesehatan baik fisik maupun psikis, menerima keadaan dan tetap merasa bersyukur serta tetap yakin dan semangat bahwa keadaan akan segera membaik. Dengan memanfaatkan momen yang sekarang dengan melakukan hal-hal yang positif maka pikiran akan teralihkan dari berbagai emosi negatif. Bukan hanya kesehatan fisik yang membutuhkan perhatian, kesehatan mental kita pun turut butuh perhatian.

Pemantik         : Fatonah Istikomah (Mahasiswi Psikologi FIP UNY 2018)
Editor              : Dania Rahma Hardanti, Mustika Vania Sulistyani (Mahasiswi Kebijakan Pendidikan FIP UNY 2019)
Layout             : Departemen Medinfo HIMA KP UNY

Back To Top